Sunday, August 23, 2009

KI AGENG NGABDURAHMAN SELA

Ki Ageng Ngabdurrahman Sela atau yang terkenal dengan nama Ki Ageng Selo hidup sezaman dengan wali songo. Makamnya terletak di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo + 10 km sebelah timur kota Purwodadi. Sebagai obyek wisata spiritual, makam Ki Ageng Selo selalu ramai dikunjungi para peziarah. Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Purwodadi atau Grobogan tersebut. Ki Ageng Selo dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai cikal bakal yang menurunkan raja-raja di Tanah Jawa, seperti raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta hingga saat ini. Ki Ageng Sela, menurut cerita dalam babad tanah Jawa (Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit, Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja bernama Ki Buyut Masharar. Setelah dewasa, Bondan Kejawan diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk menimba ilmu agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Bondan Kejawan atau Lembu Peteng dinikahkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang menikah dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh, diantaranya adalah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela terkenal sebagai orang yang sangat zuhud, dermawan dan banyak tirakat. Beliau sering bertapa dihutan, gua, dan gunung. Disamping itu beliau juga bertani menggarap sawah. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup mereka berkecukupan, Ki Ageng Sela juga mendirikan Madrasah, untuk mendidik masyarakat agar paham dan taat beragama. Muridnya banyak berdatangan dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam bertapa, Ki Ageng selalu memohon kepada Allah Swt, agar dikaruniai keturunan yang akan menjadi raja besar yang menguasai seluruh Jawa. Ki Ageng Selo termasuk auliya' yang mempunyai banyak keramat. Diantara keramat beliau adalah," ketika Sultan Demak , Sultan Trenggana masih hidup. Pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu langit diliputi awan yang sangat gelap. Tidak lama kemudian hujan lebat turun, petir menyambar-nyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap saja menyangkul tanpa memperdulikan hujan dan bahayanya. Baru sebentar Ki Ageng Selo mencangkul, datanglah “petir “ menyambar-nyambar Ki Ageng Selo, berwujud seorang kakek. Kakek itu cepat ditangkap, kemudian diikat disebuah pohon, dan Ki Ageng selo meneruskan mencangkul sawah. Setelah cukup, dia pulang dan “petir “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan Trenggono. Oleh Sultan Trenggono “petir “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “petir “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “petir“ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah suara yang menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ petir" tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek petir hancur berantakan. Ki Ageng Sela mempunyai istri yang bernama Nyai Bicak dan mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba (Wanasaba), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang menikah dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ). Karena para raja –raja Surakarta dan Yogyakarta mengetahui dan paham bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyangnya, maka zairah ke makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Biasanya sebelum Grebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap mempunyai banyak keramat. Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Lahirnya Rasulullah Saw bersamaan dengan datangnya sinar yang mampu memadamkan sinar api pemujaan di negara Persia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang. Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi. (Bq, dari berbagi sumber)
Sumber disini

KYAI TELINGSING





sebelum berdirinya Kerajaan Islam di Demak, terjadilah kejadian yang menggemparkan di daerah Kudus. Peristiwa itu terjadi pada diri Kanjeng Sunan Sungging. Pada suatu hari Kanjeng Sunan Sungging bermain layang-layang tersiratlah niat beliau untuk melihat dan berkeliling Wilayah Nusantara. Maka mulailah beliau merambat melalui benang layang-layang yang sedang melayang diangkasa. Pada waktu Kanjeng Sunan Sungging sampai ditengah-tengah angkasa, putuslah benang tersebut dan melayanglah beliau bersama layang-layang tersebut hingga sampai ke Tiongkok. Selang beberapa tahun, Kanjeng Sunan Sungging mempersunting seorang gadis Tiongkok. Dalam beberapa tahun kemudian hamillah istri tersebut dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama The Ling Sing. Setelah The Ling Sing menginjak dewasa, maka ayahandanya Kanjeng Sunan Sungging memberi petuah kepada anak tersebut. Apabila engkau ingin menjadi orang yang mulia di dunia dan akherat, maka ikutilah jejakku. Apakah yang ayahanda maksudkan ? Pergilah kau ke Kudus yang termasuk wilayah Nusantara, disanalah aku pernah berdiam. Maka berangkatlah The Ling Sing ke Kudus. Setelah ia sampai ketempat yang dituju, maka mulailah The Ling Sing menyiapkan diri untuk membenahi sekelilingnya dan berdakwah. Dimana pada waktu itu masyarakat Kudus masih kuat memeluk agama hindu. The Ling Sing yang lebih terkenal dengan sebutan Kyai Telingsing yang telah lama berdakwah telah lanjut usia dan ingin segera mencari penggantinya. Pada suatu hari Kyai Telingsing berdiri sambil menengok kekanan dan kekiri. (bahasa Jawa Ingak-Inguk) seperti mencari sesuatu. Tiba-tiba Sunan Kudus muncul dari arah selatan, dan secara tiba-tiba Sunan Kudus membangun masjid dalam waktu yang amat singkat, bahkan ada yang mengatakan masjid itu muncul dengan sendirinya. Berhubung dengan hal tersebut desa tempat masjid tersebut berdiri dinamakan desa Nganguk dan masjidnya dinamakan masjid nganguk wali. Akhirnya kedua tokoh tersebut bekerja sama dalam mengembangkan dakwah di Kudus. Dan dengan taktik dan siasat dari Kyai Telingsing dan Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) akhirnya berhasillah cita-cita keduanya untuk menyebarkan Islam di Kudus. Pada suatu hari Sunan Kudus akan kedatangan rombongan tamu dari Tiongkok. Maka dipanggillah Kyai Telingsing untuk membuat sebuah kenang-kenangan kepada tamu tersebut. Oleh Kyai telingsing dibuatlah sebuah kendi yang bertuliskan indah di dalamnya. Setelah kendi tersebut jadi, maka segera diberikan kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus setelah melihat kendi yang menurutnya kurang bagus dan biasa-biasa saja yang tidak pantas untuk dihadiahkan kepada tamu dari Tingkok tersebut, wajahnya berubah sinis dan menerimanya dengan kurang berkenan dan dilemparlah kendi tersebut. Setelah kendi tersebut pecah, terdapatlah lukisan yang indah, dimana ditengah-tengahnya tertulis kalimat syahadat. Seketika itu terperanjatlah beliau menunjukkan kekagumanya, sehingga beliau menyadari, betapa kyai Telingsing adah seorang yang memiliki karomah. Diantara sabda dari Kyai Telingsing, “Sholat Sacolo Saloho Donga sampurna", artinya : Sholat adalah sebagai do’a yang sempurna Lenggahing panggenan Tersetihing ngaji artinya : Menempatkan diri pada sesuatu yang benar, suci dan terpuji. Beliau kini makamnya di kampung sunggingan-Kudus. Ada sebagian orang yang mengatakan kalau beliau adalah seorang pemahat yang masuk dalam aliran Sun Ging. Dari nama Sun Ging inilah kemudian terjadi kata Nyungging yang artinya memahat atau mengukir, dan dari kata Sung Ging itu pulalah terjadi namanya Sungingan sampai sekarang ini. ( H. Zawawi Mufid)
Sumber disini

SYEKH MAHFUDZ AT -TIRMASI

Syekh Mahfudz At-Tirmasi, kelahiran Tremas, Jawa Timur, menjalani karier intelektualnya di Tanah Suci. Di Makkah pula, pengarang produktif ini tutup usia. Meskipun tidak pernah mengajar di pesantren yang didirikan kakeknya, Pesantren Tremas justru dikenal luas berkat reputasi keilmuan Syekh Mahfudz. Apa kehebatannya dalam mengarang kitab?
Nama lengkapnya Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Populer disebut Syekh Mahfudz Tremas. Dialah ulama Jawi paling berpengaruh pada zamannya. Lahir tahun 1258/1868 di Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Mahfudz menghabiskan sebagian besar hidupnya di Makkah, tempat para kiai Jawa yang paling berpengaruh pada awal abad ke-20 menjadi murid-muridnya. Mahfudz amat berjasa dalam memperluas cakupan ilmu-ilmu yang di pelajari di pesantren-pesantren di Jawa, termasuk hadis dan ushul fiqh.
Meskipun tidak pernah mengajar di Pesantren Tremas, Mahfudz ikut mengangkat nama harum pondok yang didirikan kakeknya dari pihak ayah itu. Abdul Mannan Dipomenggolo, sang kakek, mendirikan Pesantren Tremas pada 1830. Sampai sekarang pesantren tua yang sering dihubung-hungkan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini ini masih eksis, dan bias diakses lewat dunia maya. Sebelum mendirikan pesantrennya, Abdul Mannan belajar di Pesantren Tegalsari asuhan Kiai Kasan Besari (Hasan Basri), yang salah satu muridnya adalah pujangga Ronggowarsito. Setelah itu dia berangkat ke Timur Tengah dan belajar pada Sayyid Muhammad al-Shatta’ di Makkah dan pada Ibrahim Al-Bajuri, syeikh Al-Azhar. Setelah Abdul Mannan wafat pada 1862, putranya Abdullah menggantikan kepemimpinannya di Pesantren Tremas.
Muhammad Mahfudz adalah putra tertua Abdullah. Dia memperoleh pelajaran dasar agamanya dari sang ayah. Beranjak remaja, dia dikirim belajar ke Makkah. Dia belajar pada seorang ulama penganut mazhab Syafi’i yaitu Sayyid Bakri atau Abu Bakr b. Muhammad al-Shatta’ ad-Dimyati, putra guru kakeknya di Makkah. Sepanjang hayatnya, Mahfudz memang dekat dengan keluarga Shatta’. Keluarga terpelajar ini dari Dimyat, Mesir. Mahfudz bahkan diangkat menjadi anak, dan dikubur di tengah-tengah keluarga Shatta’. Mahfudz juga belajar pada kolega dan sekaligus rival Sayyid Bakri, yaitu Muhammad Sa`id Ba-Basil, yang menggantikan Ahmad bin Zayni Dahlan sebagai mufti Makkah dari mazhab Syafi’i. Dia juga belajar pada sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Makkah, seperti Syekh Nawawi Banten (Nawawi b. `Umar al-Jawi al-Bantani), `Abd al-Ghani al-Bimawi dan Muhammad Zainuddin al-Sumbawi, semuanya mengajar di Masjidil Haram.
Mahfudz tidak kembali ke Nusantara, memilih berkarier di Makkah, tempat dia menjadi guru yang ulung. Sewaktu Abdullah wafat pada tahun 1894, adiknya , Dimyati, yang menjadi kiai di Tremas. Anak-anak Abdullah lainnya adalah Kiai Haji Dahlan yang juga pernah belajar di Makkah. Sekembali dari Tanah Suci dia diambil menantu oleh Kiai Shaleh Darat Semarang; Kiai Haji . Muhammad Bakri yang ahli qira’ah, dan Kiai Haji Abdur Razaq, ahli thariqah dan mursyid yang punya murid di mana-mana.
Kiai Dimyati memang punya andil besar dalam memajukan pesantren Tremas. Tapi, berkat reputasi Mahfudz-lah Tremas menjadi dikenal lebih luas, meskipun, itu tadi, beliau tidak pernah mengajar di sana. Di antara murid-muridnya yang berasal dari Indonesia adalah Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh Mahfud yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air.
Dia juga mengajar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya `Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal Kalimantan Selatan), Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga bermukim di Makkah, Kiai Haji Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah, `Abdul Muhit dari Panji Sidarjo, pesantren penting lainnya dekat near Surabaya. Memang banyak di antara murid Syekh Mahfudz yang mendirikan pesantren. Kiai Hasyim sendiri adalah pendiri Pesantren Tebu Ireng, dan kiai pertama yang menjarkan kumpulan hadis Bukhari. Sedangkan Kiai Bihsri, menantunya, pendiri pesantren Tambakberas, yang juga pernah menjadi rais ‘aam PB NU. Kedua kiai besar ini, kita ketahui, adalah engkongnya Abdurrahman Wahid, mantan presiden kita itu.
Penulis Produktif
Muhammad At-Tarmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang. Salah satu bukunya yang dicetak ulang dan digunakan di pesantren sampai sekarang adalah “Manhaj dhawi al-Nazar”, salah satu karya tingkat lanjut mengenai tata bahsa Arab. Tapi yang paling terkenal adalah “Mauhibah Dzi al fadl” . Kitab fiqh empat jilid ini merupakan syarah atau komentar atas karya Abdullah Ba Fadhl ”Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah”. Kitab ini boleh dibilang jarang diajarkan di pesantren, lebih banyak digunakan oleh kiai senior sebagai rujukan dan sering dikutip sebagai salah satu sumber yang otoritatif dalam penyusunan fatwa oleh para ulama di Jawa.
Dua kitabnya di bidang ushul adalah ”Nailul Ma’mul”, syarah atas karya Zakariyya Anshari ”Lubb Al-Ushul” dan syarahnya ”Ghayat al-wushul”, dan ”Is’af al Muthali”, syarah atas berbagai versi karya Subki ”Jam’ al-Jawami’. Sebuah kitab lainnya mengenai fiqh yaitu ”Takmilat al-Minhaj al-Qawim”, berupa catatan tambahan atas karya Ibn Hajar al-Haitami “Al-Minhaj al-Qawim”.
At-Tarmasi juga menaruh minat pada seni baca Al-Qur’an (qira’ah). Untuk itu pula, dia menulis kitab “Al Fawaid at Tarmisiyah fi Asanid al- Qiraat al Asy’ariyah”, Al- Budur al Munir fi qiraah al-Imam Ibnu Katsir”, ”Tanwir ash Shadr fi Qiraah al Imam Abi ’Amr”, ”Al-Fuad fi Qiraat al Imam Hamzah”, ”Tamim al Manafi fi Qiraat al-Imam Nafi’, dan ”Aniyah ath Thalabah bi Syarah Nadzam ath Tayyibah fi Qiraat al Asy’ariyah.”
Selain itu, ada dua karya lainnya tentang bibliografi dan riwayat pengarangnya. Yakni “Kifayat al-mustafid li-ma `alla min al-asanid, mengenai jalur transmisi (sanad) dari para pengarang kitab-kitab klasik sampai guru-gurunya, dan “As-Saqayah al-Mardhiyyah fi Asma’i Kutub Ashhabina al- Syafiiyah”, kajian atas karya-karya fiqih mazhab Syafi’i dan riwayat para pengarangnya.
Diceritakan dalam kitab “Kifayatul Mustafid “ bahwa Syekh Mahfudz selain masyhur sebagai seorang alim yang khusyu’ dalam ibadah, tawadlu’ dalam tingkah laku, ridha dan sabar didalam sikap, juga sebagai seorang ahli dalam Hadist Bukhari. Beliau diakui sebagai seorang isnad (mata rantai) yang sah dalam pengajaran Shahih Bukhari. Ijasah ini berasal langsung dari Imam Bukhari itu sendiri yang ditulis sekitar 1000 tahun yang lalu dan diserahkan secara berantai melalui 23 generasi ulama yang telah menguasai karya Shahih Bukhari, dan Syeikh Mahfudz a merupakan mata rantai yang terakhir pada waktu itu.
Dalam menulis, konon Syekh Mahfudz ibarat sungai yang airnya terus mengalir tanpa henti. Gua Hira menjadi tempatnya mencari inspirasi. Dia biasa menghabiskan waktunya di gua tempat Nabi menerima wahyu-Nya yang pertama itu. Kecepatan Mahfudz dalam menulis kitab, juga boleh dibilang istimewa. Khabarnya, kitab ”Manhaj Dhawi al-Nazhar” beliau selesaikan dalam 4 bulan 14 hari. Mahfudz mengatakan bahwa kitab ini ditulis ketika berada di Mina dan Arafat.
Mengingat karyanya yang berbagai-bagai itu, tidak berlebihan kiranya jika Syeikh Yasin Al-Padani, ulama Makkah asal Padang, Sumatra Barat, yang berpengaruh pada tahun 1970-an, menjuluki Mahfudz At-Tarmasi: al-alamah, al-muhadits, a- musnid, al- faqih, al- ushuli dan al- muqri.
Yang menarik, kitab-kitab karangan Syeikh Mahfudz tidak hanya dipergunakan oleh hampir semua pondok pesantren di Indonesia, tapi konon banyak pula yang dipakai sebagai literatur wajib pada beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti di Marokko, Arab Saudi, Iraq dan negara-negara lainnya. Bahkan sampai sekarang di antara kitab-kitabnya masih ada yang dipakai dalam pengajian di Masjidil Haram.
Muhammad Mahfudz At-Tarmasi wafat pada hari Rabu bulan Rajab tahun 1338 Hijrah bertepatan dengan tahun 1920 M.
Blow-up:
1. Muhammad At-Tarmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang.
2. Di antara murid-murid Syekh Mahfud Tremas yang berasal dari Indonesia adalah Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh Mahfud yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air. Dia juga mengjar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya `Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal Kalimantan Selatan), Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga bermukim di Makkah, dan Kiai Haji Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah
Sumber disini

SHEIKH FADHIL AL BANTENI

PENYEBAR WIRID KHAUJAKAN DI JOHORAPABILA riwayat Haji Abu Bakar bin Haji Hasan Muar tersiar dalam Ruangan Agama, Utusan Malaysia, penulis menerima panggilan daripada beberapa orang di Muar, antaranya Cikgu Haji Muhammad. Beliau menyatakan bahawa sezaman dengan ulama Muar itu ada lagi beberapa ulama yang sangat besar pengaruhnya dalam bidang kerohanian di kerajaan Johor, iaitu Syeikh Kiyai Haji Fadhil bin Haji Abu Bakar al-Banten. Daripada hasil wawancara, sebuah buku berjudul Amalan Wirid Khaujakan dan Huraiannya, susunan Ustaz Haji Ahmad Tunggal diterbitkan oleh Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan Johor Darul Takzim, serta beberapa catatan. Maka ulama berasal dari Banten yang menaburkan baktinya di Johor dapat diperkenalkan. Beliau lahir di Banten, Jawa Barat sekitar tahun 1287 Hijrah/1870 Masihi dan meninggal dunia di Bakri, Muar, Johor pada 29 Jamadilawal 1369 Hijrah/18 Mac 1950 Masihi, dikebumikan di Batu 28 Langa, Muar.Sebelum riwayat ini diteruskan, dirasakan perlu menjelaskan nama `Banten' kerana ada orang memperkata bahawa ulama yang diceritakan ini berasal dari `Bentan'. Hal ini terjadi hanyalah kerana ada orang yang tidak dapat membezakan antara Banten dengan Bentan. Banten, kadang-kadang disebut juga dengan Bantan, kadang-kadang Bantam. Banten pada zaman dulu mempunyai kerajaan sendiri. Setelah Indonesia merdeka ia dimasukkan ke dalam Propinsi Jawa Barat dan setelah reformasi, menjadi propinsi sendiri yang dinamakan Propinsi Banten.Ada pun Bentan adalah sebuah pulau di Kepulauan Riau, yang kedua terbesar sesudah Pulau Natuna. Bentan sangat penting dalam sejarah dan geografi, sama ada zaman kerajaan Melaka mahu pun zaman pembentukan kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang dan takluknya, zaman Riau-Johor dan terakhir sekali menjadi Riau-Lingga.Ulama yang dikisahkan ini berasal dari Banten bukan dari Bentan. Banten memang ramai melahirkan ulama yang terkenal, antara yang terkenal di seluruh dunia Islam ialah Syeikh Nawawi al-Bantani yang diakui oleh dunia Islam dengan gelar Imam Nawawi ats-Tsani (Imam Nawawi yang ke-2). Sedang dari Bentan hingga kini belum diketahui nama ulamanya, yang ada hanyalah ulama Riau yang berasal dari pulau-pulau lainnya. Antara ulama Riau yang mengajar di Mekah peringkat guru pada Fadhil ialah Syeikh Ahmad bin Muhammad Yunus Lingga .PENDIDIKANSelain mendapat pendidikan dari kalangan keluarga sendiri, Fadhil juga memasuki pelbagai pondok pengajian di Banten. Sekitar usia tiga puluhan, barulah beliau melanjutkan pendidikannya di Mekah. Sewaktu masih berada di Banten lagi, Fadhil telah mengenal beberapa thariqat yang berada di Banten, antaranya ialah Thariqat Qadiriyah yang tersebar di seluruh Jawa yang dibawa oleh murid-murid Syeikh Ahmad Khathib bin Abdul Ghaffar Sambas (lahir 1217 Hijrah/ 1802 Masihi, wafat 1289 Hijrah/1872 Masihi). Salah seorang khalifahnya yang paling terkenal, yang berasal dari Banten ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani (wafat 18 Safar 1315 Hijrah/19 Julai 1897 Masihi). Thariqat Naqsyabandiyah yang tersebar di Banten juga berasal daripada ulama Sambas tersebut melalui Syeikh Abdul Karim al-Bantani. Oleh itu dipercayai bahawa Fadhil telah ditawajjuh dengan kedua-dua thariqat tersebut oleh Syeikh Abdul Karim al-Bantani, ulama Banten yang sangat terkenal itu. Setelah berada di Mekah, Fadhil menerima pula Thariqat Tijaniyah, walau bagaimana pun tidak jelas daripada siapa beliau menerima thariqat itu. Selain belajar, di Mekah beliau membantu saudara sepupunya Hajah Halimah mengurus jemaah haji.DATANG KE JOHORPenghulu Mukim Langa bernama Haji Daud sangat tertarik pada keperibadian, keilmuan dan kerohanian yang ada pada Fadhil, maka penghulu itu berusaha memujuk ulama yang berasal dari Banten ini supaya datang ke Johor. Akhirnya hasrat Daud tercapai juga. Maka dalam tahun 1915 Masihi, Fadhil Banten sampai di Johor. Beliau mengajar di Kampung Langa, Muar. Selain pelbagai ilmu Islam yang asas seperti fardu ain, Fadhil lebih menekankan Wirid Khaujakan atau Khatam Khaujakan yang sangat terkenal dalam ajaran Thariqat Qadiriyah dan Thariqat Naqsyabandiyah.Fadhil melebarkan sayap dakwahnya bukan hanya di Kampung Langa tetapi juga termasuk dalam Bandar Maharani (Muar), Bakri, Bukit Kepong dan tempat-tempat lainnya. Pendek kata banyak surau dan masjid yang menjadi tempat beliau mengajar. Ajaran beliau dapat diterima oleh semua pihak termasuk Sultan Johor.SULTAN JOHOR PERLU PERTOLONGANPerang dunia kedua meletus antara tahun 1939 hingga tahun 1945. Dalam masa darurat itulah Sultan Ibrahim, Sultan Johor merasa perlu menyelamatkan Kerajaan Johor, termasuk diri peribadi dan keluarganya dengan apa cara sekali pun. Atas nasihat beberapa insan yang arif, baginda mendekati seorang ulama sufi yang sangat mustajab doanya. Ulama yang dimaksudkan Syeikh Fadhil. Beliau tidak perlu didatangkan dari luar kerana beliau memang telah bermustautin di Johor. Baginda menitahkan Datuk Othman Buang, Pegawai Daerah Muar ketika itu untuk mencari dan menjemput ulama sufi itu datang ke istana baginda. Hajat Sultan Ibrahim itu dipersetujui oleh Syeikh Fadhil, namun walaupun sultan telah menyediakan sebuah rumah dekat dengan istana di Pasir Pelangi tetapi beliau lebih suka tinggal di Masjid Pasir Pelangi. Pada waktu malam beliau hadir di sebelah bilik peraduan Sultan Ibrahim membaca wirid untuk menjaga keselamatan sultan. Walau bagaimana pun untuk lebih mudah melakukan pelbagai amalan wirid dan munajat kepada Allah, beliau memilih masjid yang lebih banyak berkatnya dari rumah. Oleh itu Fadhil lebih banyak melakukannya di dalam masjid.Akhirnya Sultan Ibrahim memperoleh ketenangan jiwa kerana keberkesanan dan keberkatan doa Syeikh Fadhil. Selanjutnya perang dunia kedua selesai dan baginda memberikan anugerah kepada ulama sufi tersebut. Ustaz Haji Ahmad Tunggal dalam bukunya menyebut, ``Sultan telah menganugerahkan pangkat kepada Haji Fadhil, iaitu ia dilantik sebagai Mufti Peribadi Sultan. Jawatan ini berbeza dengan Mufti Kerajaan. Mufti Peribadi adalah bertanggungjawab kepada sultan. Ia memberi nasihat dan fatwa jika dikehendaki oleh sultan.''Selain anugerah yang berupa kedudukan itu, Sultan Ibrahim juga membiayai Fadhil dan isterinya menunaikan ibadah haji, dan memberikan hadiah-hadiah yang tidak terkira besar dan banyaknya. Sumbangan yang tiada terhingga besarnya kepada Sultan Ibrahim ialah beliau telah membuka pintu kebebasan seluas-luasnya kepada Kiyai Syeikh Fadhil untuk menubuhkan kumpulan-kumpulan Wirid Khaujakan di seluruh Kerajaan Johor tanpa sebarang halangan. Berdasarkan tulisan Ustaz Haji Ahmad Tunggal, peringkat awal pembentukan kumpulan tersebut di Pontian diketuai oleh Haji Ahmad Syah. Di Batu Pahat oleh Kiyai Saleh. Di Muar oleh Haji Abdul Majid dan di Mersing oleh Haji Siraj bin Marzuki.KETURUNAN DAN MURIDDaripada isteri yang pertama, Syeikh Fadhil memperoleh empat orang anak; seorang lelaki dan tiga perempuan. Anak lelakinya ialah Orang Kaya Penghulu Haji Abdul Hamid. Setelah isteri pertamanya meninggal dunia, beliau pindah ke Bandar Muar dan berkahwin lagi dengan seorang janda beranak dua. Kedua-duanya ialah Haji Othman bin Haji Azhari dan Haji Ali bin Haji Azhari yang meneruskan perjuangan Syeikh Fadhil. Antara murid Syeikh Fadhil ialah Sahibus Samahah Haji Ahmad Awang yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Johor. Murid dan anak tirinya, Haji Othman Azhari, dalam buku Amalan Wirid Khaujakan dan Huraiannya, pada tahun 1994 adalah sebagai Yang Dipertua Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan, dan ramai lagi. Daripada buku Amalan Wirid Khaujakan dan Huraiannya oleh Ustaz Ahmad Tunggal yang memperoleh pendidikan di Universiti Al-Azhar, Mesir itu banyak perkara yang dapat kita ketahui. Antaranya bahawa terasasnya Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan yang sangat meluas di seluruh Johor adalah bermula daripada Syeikh Fadhil. Amalan Wirid Khaujakan masih subur dan berkesinambungan di Johor seperti juga di beberapa tempat lain di seluruh dunia Islam.Pada pandangan penulis, walaupun ada golongan anti amalan sufi yang menuduh bahawa orang-orang sufi mengamalkan perkara-perkara bidaah dan khurafat, tuduhan melulu seperti itu tidak berasas sama sekali kerana Wirid Khaujakan dan beberapa amalan golongan sufi selainnya juga bersumberkan al- Quran dan as-sunah. Mereka yang beramal dengannya bukan terdiri daripada golongan awam saja tetapi juga termasuk ulama-ulama besar terkenal yang mampu membahas al-Quran dan hadis. Ia bukan diamalkan oleh orang-orang di dunia Melayu sahaja tetapi juga di tempat-tempat dalam belahan dunia. Penulis tidak sependapat dengan beberapa pandangan yang menuduh bahawa apabila beramal mengikut sufi mengakibatkan ketinggalan dalam membina kemajuan duniawi, kerana ternyata tidak sedikit golongan sufi yang menghasilkan karya, mencetuskan pemikiran yang bernas maju, menghasilkan sesuatu pemikiran baru pada setiap zaman dan lain-lain. Kebijakan Sultan Ibrahim yang memahami keadaan zaman darurat menghadapi huru-hara perang dunia kedua yang sukar diatasi dalam bentuk zahiri semata-mata, sehingga baginda memerlukan insan takwa seperti Syeikh Fadhil, patut dicontohi oleh pemimpin-pemimpin kita masa kini dan zaman-zaman yang akan datang. Setelah kita mengetahui dalam dunia sekarang bahawa nyawa seolah-olah tiada harganya, situasi dunia yang tiada ketentuannya, termasuk dunia Melayu juga, maka patutlah umat Islam Melayu memperbanyak zikir, wirid, selawat dan lain-lain sejenisnya demi kebaikan dan ketahanan diri Muslimin dan dunia Melayu sejagat.
Sumber disini

SYEKH YUSUF AL MAKASARI


Syekh Yusuf berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone. Syekh Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai dengan ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba'alawiyah, dan Qadiriyah. Namun dalam pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.

Syekh Yusuf sejak kecil diajar serta dididik secara Islam. Ia diajar mengaji Alquran oleh guru bernama Daeng ri Tasammang sampai tamat. Di usianya ke-15, Syekh Yusuf mencari ilmu di tempat lain, mengunjungi ulama terkenal di Cikoang yang bernama Syekh Jalaluddin al-Aidit, yang mendirikan pengajian pada tahun 1640.

Syekh Yusuf meninggalkan negerinya, Gowa, menuju pusat Islam di Mekah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Ia sempat singgah di Banten dan sempat belajar pada seorang guru di Banten. Saat ia mengenal ulama masyhur di Aceh, Syekh Nuruddin ar Raniri, melalui karangan-karangannya, pergilah ia ke Aceh dan menemuinya.

Setelah menerima ijazah tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin, Syekh Yusuf berusaha ke Timur Tengah. Beliau ke Arab Saudi melalui Srilanka.

Di Arab Saudi, mula-mula Syekh Yusuf mengunjungi negeri Yaman, berguru pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugerahi ijazah tarekat Naqsyabandi dari gurunya ini.

Perjalanan Syekh Yusuf dilanjutkan ke Zubaid, masih di negeri Yaman, menemui Syekh Maulana Sayed Ali. Dari gurunya ini Syekh Yusuf mendapatkan ijazah tarekat Al-Baalawiyah. Setelah tiba musim haji, beliau ke Mekah menunaikan ibadah haji.

Dilanjutkan ke Madinah, berguru pada syekh terkenal masa itu yaitu Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya ijazah tarekat Syattariyah. Belum juga puas dengan ilmu yang didapat, Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui Syekh Abu Al Barakat Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat Khalwatiyah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal Hakikat yang dialami oleh Syekh Yusuf.

Melihat jenis-jenis alirannya, diperoleh kesan bahwa Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang tinggi, meluas, dan mendalam. Mungkin bobot ilmu seperti itu, disebut dalam lontara versi Gowa berupa ungkapan (dalam bahasa Makassar): tamparang tenaya sandakanna (langit yang tak dapat diduga), langik tenaya birinna (langit yang tak berpinggir), dan kappalak tenaya gulinna (kapal yang tak berkemudi).

Cara-cara hidup utama yang ditekankan oleh Syekh Yusuf dalam pengajarannya kepada murid-muridnya ialah kesucian batin dari segala perbuatan maksiat dengan segala bentuknya. Dorongan berbuat maksiat dipengaruhi oleh kecenderungan mengikuti keinginan hawa nafsu semata-mata, yaitu keinginan memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia. Hawa nafsu itulah yang menjadi sebab utama dari segala perilaku yang buruk. Tahap pertama yang harus ditempuh oleh seorang murid (salik) adalah mengosongkan diri dari sikap dan perilaku yang menunjukkan kemewahan duniawi.

Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat. Kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali. Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.

Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus dikandungi cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.

Dengan demikian Syekh Yusuf mengajarkan kepada muridnya untuk menemukan kebebasan dalam menempatkan Allah Yang Mahaesa sebagai pusat orientasi dan inti dari cita, karena hal ini akan memberi tujuan hidup itu sendiri.

Sumber disini

Syeikh Abdush Shamad al-Palimbani

Dalam percaturan intelektualisme Islam Nusantara –atau biasa juga disebut dunia Melayu– khususnya di era abad 18 M, peran dan kiprah Syeikh Abdush Shamad Al-Palimbani tak bisa dianggap kecil. Syeikh Al-Palimbani, demikian biasa ia disebut banyak kalangan, merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara. Ketokohannya melengkapi nama-nama ulama dan intelektual berpengaruh seangkatannya semisal Al-Raniri, Al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf Al-Maqassari, dan masih banyak lainnya.

Dalam deretan nama-nama tersebut itulah, posisi Syeikh Al-Palimbani menjadi amat sentral berkaitan dengan dinamika Islam. Malah, sebagian sejarahwan, seperti Azyumardi Azra, menilai Al-Palimbani sebagai sosok yang memiliki kontribusi penting bagi pertumbuhan Islam di dunia Melayu. Ia bahkan juga bersaham besar bagi nama Islam di Nusantara berkaitan kiprah dan kontribusi intelektualitasnya di dunia Arab, khususnya semasa ia menimba ilmu di Mekkah.

Riwayat hidup Abdush Shamad al-Palimbani sangat sedikit diketahui. la sendiri hampir tidak pernah menceritakan tentang dirinya, selain tempat dan tanggal yang dia cantumkan setiap selesai menulis sebuah kitab. Seperti yang pernah ditelusuri M. Chatib Quzwain dan juga Hawash Abdullah, satu-satunya yang menginformasikan tentang dirinya hanya Al-Tarikh Salasilah Negeri Kendah (di Malaysia) yang ditulis Hassan bin Tok Kerani Mohammad Arsyad pada 1968.

Sumber ini menyebutkan, Abdush Shamad adalah putra Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Ahmad al-Mahdani (ada yang mengatakan al-Mahdali), seorang ulama keturunan Arab (Yaman) yang diangkat menjadi Mufti negeri Kedah pada awal abad ke-18. Sementara ibunya, Radin Ranti adalah seorang wanita Palembang. Syekh Abdul Jalil adalah ulama besar sufi yang menjadi guru agama di Palembang, tidak dijelaskan latar belakang kedatangannya ke Palembang. Diperkirakan hanya bagian dari pengembaraannya dalam upaya menyiarkan Islam sebagaimana banyak dilakukan oleh warga Arab lainnya pada waktu itu.

Tetapi selain sumber tersebut, Azyu-mardi Azra juga mendapatkan informasi mengenai dirinya dalam kamus-kamus biografi Arab yang menunjukkan bahwa Al-Palimbani mempunyai karir terhormat di Timur Tengah.

Menurut Azra, informasi ini merupakan temuan penting sebab tidak pernah ada sebelumnya riwayat-riwayat mengenai ulama Melayu-lndonesia ditulis dalam kamus biografi Arab. Dalam literatur Arab, Al-Palimbani dikenal dengan nama Sayyid Abdush Shamad bin Abdur Rahman al-Jawi. Tokoh ini, menurut Azra, bisa dipercaya adalah Al-Palimbani karena gambaran karirnya hampir seluruhnya merupakan gambaran karir Abdush Shamad al-Palimbani yang diberitakan sumber-sumber lain.

Sejauh yang tercatat dalam sejarah, memang ada tiga versi nama yang dikaitkan dengan nama lengkap Al-Palimbani. Yang pertama, seperti dilansir Ensiklopedia Islam, ia bernama lengkap Abdus Shamad Al-Jawi Al-Palimbani. Versi kedua, merujuk pada sumber-sumber Melayu, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan: 1994), ulama besar ini memiliki nama asli Abdus Shamad bin Abdullah Al-Jawi Al-Palimbani. Sementara versi terakhir, tulis Rektor UIN Jakarta itu, bahwa bila merujuk pada sumber-sumber Arab, maka Syeikh Al-Palimbani bernama lengkap Sayyid Abdus Al-Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi.

Dalam pengembaraan putra mahkota Kedah, Tengku Muhammad Jiwa ke Palembang, ia bertemu dengan Syekh Abdul Jalil dan berguru padanya, bahkan mengikutinya mengembara ke berbagai negeri sampai ke India. Dalam sebuah perjalanan mereka, Tengku Muhammad Jiwa mendapat kabar bahwa Sultan Kedah telah mangkat.

Tengku Muhammad Jiwa lalu mengajak gurunya itu (Syekh Abdul Jalil) pulang bersamanya ke negeri Kedah. Ia dinobatkan menjadi sultan pada tahun 1112 H/1700 M dan Syekh Abdul Jalil diangkat menjadi mufti Kedah dan dinikahkan dengan Wan Zainab, putri Dato’ Sri Maharaja Dewa, Sultan Kedah.

Tiga tahun kemudian Syekh Abdul Jalill kembali ke Palembang karena permintaan beberapa muridnya yang rindu padanya. Di Palembang ia menikah dengan Radin Ranti dan memperoleh putra, Abdush Shamad. Dengan demikian kemungkinan Abdush Shamad lahir tahun 1116 H/1704 M.

Sumber yang menyebutkan silsilahnya sebagai keturunan Arab tidak pernah dikonfirmasikan oleh Al-Palimbani sendiri. Jika keterangan sumber tersebut benar, tentu Al-Palimbani akan mencantumkan nama besar al-Mahdani pada akhir namanya. Ini dapat dilihat dari setiap tulisannya, ia menyebut dirinya Syekh Abdush Shamad al-Jawi al-Palimbani. Kemungkinan dalam dirinya memang mengalir darah Arab tetapi silsilah itu tidak begitu jelas atau ada mata rantai yang tidak bersambung menurut garis keturunan bapak sehingga dia tidak merasa berhak menyebut dirinya keturunan al-Mahdani dari Yaman. Dan barangkali dia lebih merasa sebagai orang Indonesia sehingga mencantumkan ‘al-Jawi‘ dan ‘al-Palimbani‘ di ujung namanya.

Al-Palimbani mengawali pendidikannya di Kedah dan Pattani (Thailand Selatan). Tidak ada penjelasan kapan dia berangkat ke Makkah melanjutkan pendidikannya. Kemungkinan besar setelah ia menginjak dewasa dan mendapat pendidikan agama yang cukup di negeri Melayu itu. Dan agaknya sebelum ke Makkah dia telah mempelajari kitab-kitab para sufi (tasawuf) Aceh, karena di dalam Sayr al-Salikin dia menyebutkan nama Syamsuddin al-Samatrani dan Abdul Rauf al-Jawi al-Fansuri (Abdul Rauf Singkel). Namun sumber lain mengatakan bahwa ia pernah bertemu dan berguru pada Syamsuddin al-Samatrani dan Abdul Rauf Singkel di Makkah.

Di Makkah dan Madinah, Al-Palimbani banyak mempelajari berbagai disiplin ilmu kepada ulama-ulama besar masa itu serta para ulama yang berkunjung ke sana. Walaupun pendidikannya sangat tuntas mengingat ragam ulama tempatnya belajar, Al-Palimbani mempunyai kecenderungan pada tasawuf. Karena itu, di samping belajar tasawuf di Masjidil-Haram, ia juga mencari guru lain dan membaca kitab-kitab tasawuf yang tidak diajarkan di sana. Dari Syekh Abdur Rahman bin Abdul ‘Aziz al-Magribi dia belajar kitab Al-Tuhfatul Mursalah (Anugerah yang Diberikan) karangan Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri (w. 1030 H/1620 M). Dari Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani (w. 1190 H/1776 M) ia belajar kitab tauhid (suluk) Syekh Mustafa al-Bakri (w. 1162 H/1749 M). Dan bersama Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab Bugis dan Abdul-Rahman Masri Al-Batawi dari Jakarta, mereka membentuk empat serangkai yang sama-sama menuntut ilmu di Makkah dan belajar tarekat di Madinah kepada Syekh Muhammad al-Samman (w. 1162 H/1749 M), juga bersama-sama dengan Dawud Al-Fatani dari Patani, Thailand Selatan.

Selama belajar pada Syekh Muhammad al-Samman, Al-Palimbani dipercaya mengajar rnurid-murid Al-Sammani yang asli orang Arab. Karena itu sepanjarig menyangkut kepatuhannya pada tarekat, Al-Palimbani banyak dipengaruhi Al-Sammani dan dari dialah Al-Palimbani mengambil tarekat Khalwatiyyah dan Sammaniyyah. Sebaliknya, melalui Al-Palimbani-lah tarekat Sammaniyyah mendapat lahan subur dan berkembang tidak hanya di Palembang tetapi juga di bagian lain wilayah Nusantara bahkan di Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina. Beberapa orang guru yang masyhur dan berandil besar dalam proses peningkatan intelektualitas dan spiritualitasnya antara lain Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani, Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi, dan Abdul Al-Mun’im Al-Damanhuri. Juga tercatat ulama besar Ibrahim Al-Rais, Muhammad Murad, Muhammad Al-Jawhari, dan Athaullah Al-Mashri.

Al-Palimbani rnemantapkan karirnya di Haramayn (Mekkah dan Madinah) dan mencurahkan waktunya untuk menulis dan mengajar. Meski demikian dia tetap menaruh perhatian yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimun di negeri asalnya. Di Haramayn ia terlibat dalam ‘komunitas Jawi’ yang membuatnya tetap tanggap terhadap perkembangan sosio-religius dan politik di Nusantara. Peran pentingnya tidak hanya karena keterlibatannya dalam jaringan ulama, melainkan lebih penting lagi karena tulisan-tulisannya yang tidak hanya menyebarkan ajaran-ajaran sufisme tetapi juga menghimbau kaum Muslimun melancarkan jihad melawan kolonialis Eropa, dibaca secara luas di wilayah Melayu-lndonesia. Peranan dan perhatian tersebut memantapkannya sebagai ulama asal Palembang yang paling menonjol dan paling berpengaruh melalui karya-karyanya.

Al-Palimbani berperan aktif dalam memecahkan dua persoalan pokok yang saat itu dihadapi bangsa dan tanah airnya, baik di kesultanan Palembang maupun di kepulauan Nusantara pada umumnya, yaitu menyangkut dakwah Islamiyah dan kolonialisme Barat. Mengenai dakwah Islam, ia menulis selain dua kitab tersebut di atas, yang menggabungkan mistisisme dengan syariat, ia juga menulis Tuhfah al-Ragibtn ft Sayan Haqfqah Iman al-Mukmin wa Ma Yafsiduhu fi Riddah al-Murtadin (1188). Di mana ia memperingatkan pembaca agar tidak tersesat oleh berbagai paham yang menyimpang dari Islam seperti ajaran tasawuf yang mengabaikan syariat, tradisi menyanggar (memberi sesajen) dan paham wujudiyah muthid yang sedang marak pada waktu itu. Drewes rnenyimpulkan bahwa kitab ini ditulis atas permintaan sultan Palembang, Najmuddin, atau putranya Bahauddin karena di awal kitab itu ia memang menyebutkan bahwa ia diminta seorang pembesar pada waktu itu untuk menulis kitab tersebut.

Mengenai kolonialisme Barat, Al-Palimbani menulis kitab Nasihah al-Muslimin wa tazkirah al-Mu’min fi Fadail Jihad ti Sabilillah, dalam bahasa Arab, untuk menggugah semangat jihad umat Islam sedunia. Tulisannya ini sangat berpengaruh pada perjuangan kaum Muslimun dalam melawan penjajahan Belanda, baik di Palembang maupun di daerah-daerah lainnya. Hikayat Perang Sabil-nya Tengku Cik di Tiro dikabarkan juga mengutip kitab tersebut.

Masalah jihad fi sabililiah sangat banyak dibicarakan Al-Palimbani. Pada tahun 1772 M, ia mengirim dua pucuk surat kepada Sultan Mataram (Hamengkubuwono I) dan Pangeran Singasari Susuhunan Prabu Jaka yang secara halus menganjurkan pemimpin-pemimpin negeri Islam itu meneruskan perjuangan para Sultan Mataram melawan Belanda.

Mengenai tahun wafatnya juga tidak diketahui dengan pasti. Al-Tarikh Salasilah Negeri Kendah menyebutkan tahun 1244 H/1828 M. Namun kebanyakan peneliti lebih cenderung menduga ia wafat tidak berapa lama setelah meyelesaikan Sayr al-Salikin (1203 H/1788 M). Argumen mereka, Sayr al-Salikin adalah karya terakhirnya dan jika dia masih hidup sampai 1788 M kemungkinan dia masih tetap aktif menulis. Al-Baythar - seperti dikutip Azyumardi Azra - menyebutkan ia wafat setelah tahun 1200/1785. Namun Azyumardi Azra sendiri juga lebih cenderung mengatakan ia wafat setelah menyelesaikan Sayr al-Salikin, tahun 1788 M.

Karya Tulis Al-Palimbani

Tercatat delapan karya tulis Al-Palimbani, dua diantaranya telah dicetak ulang beberapa kali, dua hanya tinggal nama dan naskah selebihnya masih bisa ditemukan di beberapa perpustakaan, baik di Indonesia maupun di Eropa. Pada umumnya karya tersebut meliputi bidang tauhid, tasawuf dan anjuran untuk berjihad. Karya-karya Al-Palirnbani selain empat buah yang telah disebutkan di atas adalah:

  1. Zuhrah al-Murid fi Bayan Kalimah al-Tauhid, ditulis pada 1178 H/1764 M di Makkah dalam bahasa Melayu, memuat masalah tauhid yang ditulisnya atas perrnintaan pelajar Indonesia yang belurn menguasai bahasa Arab.
  2. Al-’Uwah al-Wusqa wa Silsilah Ulil-Ittiqa’, ditulis dalam bahasa Arab, berisikan wirid-wirid yang perlu dibaca pada waktu-waktu tertentu.
  3. Ratib ‘Abdal-Samad, semacam buku saku yang berisi zikir, puji-pujian dan doa yang dilakukan setelah shalat Isya. Pada dasarnya isi kitab ini hampir sama dengan yang terdapat pada Ratib Samman.
  4. Zad al-Muttaqin fi Tauhid Rabb al-’Alamin, berisi ringkasan ajaran tauhid yang disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Samman di Madinah.

Mengenai Hidayah al-Salikin yang ditulisnya dalam bahasa Melayu pada 1192 H/1778 M, sering disebut sebagai terjemahan dari Bidayah al-Hidayah karya Al-Ghazali. Tetapi di samping menerjemahkannya, Al-Palimbani juga membahas berbagai masalah yang dianggapnya penting di dalam buku itu dengan mengutip pendapat Al-Ghazali dari kitab-kitab lain dan para sufi yang lainnya. Di sini ia menyajikan suatu sistem ajaran tasawuf yang memusatkan perhatian pada cara pencapaian ma’rifah kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam.

Sedangkan Sayr al-Salikin yang terdiri dari empat bagian, juga berbahasa Melayu, ditulisnya di dua kota, yaitu Makkah dan Ta’if, 1779 hingga 1788. Kitab ini selain berisi terjemahan Lubab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali, juga memuat beberapa masalah lain yang diambilnya dari kitab-kitab lain. Semua karya tulisnya tersebut masih dijumpai di Perpustakaan Nasional Jakarta.

Wallahua’lam

Sumber disini

SYEKH SYIHABUDDUIN AL JAWI

PADA 20 Rabiulakhir 1427 H/18 Mei 2006 diadakan ‘Seminar Tasawuf Mencari Permata Yang Hilang’ di dewan kediaman rasmi Menteri Besar Pahang, Datuk Seri Adnan Yaakob di Kuantan. Seminar tersebut dianjurkan oleh Kolej IKIP dan Yayasan Pahang. Empat kertas kerja dibentangkan. Kertas kerja yang saya tulis mengawali pembentangan pada sesi pagi. Seminar itu dirasmikan oleh Adnan. Tanpa saya duga beliau ialah seorang yang rajin membaca termasuk tentang tasawuf. Beliau termasuk peminat Buya Hamka, sehingga dalam ucapan perasmian itu beliau banyak memetik Tasawuf Moden dan berkali-kali menyebut nama ulama besar yang terkenal itu.

Pada waktu rehat, saya sempat berbual agak panjang dengan Adnan. Katanya, sejak kecil lagi beliau telah mengumpul dan mempelajari buku-buku karangan Buya Hamka. Saya simpulkan memang ramai peminat Buya Hamka termasuk saya sendiri. Hamka juga seorang tokoh tajdid yang tidak menolak ajaran tasawuf. Tidak dapat dinafikan ramai tokoh lain berfikir positif dan langkah itu wajar kerana tasawuf adalah sebahagian daripada ajaran agama Islam. Sebaliknya tidak kurang pula orang yang berfikir negatif dan tiada wajar serta tanpa mempelajari dengan teliti telah menuduh tasawuf sebagai sebahagian daripada ajaran sesat.

Kertas kerja tentang tasawuf yang saya bentangkan di Kuantan itu berkisar kepada dua tokoh saja iaitu Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani dan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjar. Artikel ini pula menceritakan riwayat Syeikh Syihabuddin, yang beliau ini lebih dulu muncul daripada kedua-dua ulama tersebut.

Manuskrip

Pada zaman yang sama ada dua orang yang bernama Syeikh Syihabuddin, atau orang yang bernama sama. Seorang menjalankan aktiviti di Palembang di Sumatera Selatan dan seorang lagi di Pahang. Ulama yang diambil data dalam artikel ini adalah berdasarkan sebuah manuskrip, namun masih tidak jelas sama ada Syeikh Syihabuddin Palembang ataupun Syeikh Syihabuddin Pahang. Dalam manuskrip, beliau hanya menyebut tinggal di ‘Jawi’ tanpa menyebut dari tempat mana beliau berasal. Nama lengkap dalam manuskrip ialah as-Syeikh Syihabuddin al-Haji ibnu Abdullah Muhammad al-Jawi.

Artikel ini saya lebih memfokuskan tentang tasawuf yang bersumber daripada karya ulama Syeikh Syihabuddin al-Haji. Oleh itu, bahasan pertikaian pendapat tentang beliau berasal dari Palembang ataupun Pahang saya tinggalkan saja.

Manuskrip koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia (PMM-PNM) yang diberi nombor kelas MS 1522 dikenali dengan judul lengkap Syarh Akidah al-Iman. Ia ditulis sendiri oleh Syeikh Syihabuddin al-Haji bin Abdullah Muhammad al-Jawi. Kitab itu diselesaikan pada hari Ahad, 7 Jamadilawal 1162 H, bersamaan tarikh yang disesuaikan oleh PMM-PNM iaitu 24 April 1748. MS 1522 tersebut adalah salinan Mahmud bin Muhammad Yusuf bin Abdul Qadir Terengganu. Selesai penyalinan pada hari Jumaat, 16 Rabiulawal 1260 H, persamaan tarikh yang disesuaikan oleh pihak Pusat Manuskrip Melayu Malaysia (PMM-PNM) pada 5 April 1844. Jarak waktu dari tulisan asli hingga penyalinan adalah selama hampir 100 tahun.

Pada mukadimah kitab, Syeikh Syihabuddin al-Haji menulis, “kemudian daripada itu, maka inilah suatu syarah yang lathif atas mukhtasar Jauhar Tauhid namanya, bagi Syeikh yang fadhil, lagi alim, Ibrahim Laqani nauwarallahu dharihahu. Dan ku namai ia akan Syarh Akidah al-Iman di dalam Syarah Jauhar Tauhid, halnya aku ibaratkan dengan bahasa Jawi supaya mudah bagi orang yang mubtadi di dalam agama.”

Sebagaimana telah disebutkan bahawa tidak terdapat nama negeri Jawi yang mana dalam manuskrip karyanya, yang ada dinyatakan selain nama diri dan ‘al-Jawi’ hanyalah mazhabnya, iaitu Mazhab Syafie. Sesudah itu ialah ada empat jenis tarekat yang diamalkannya iaitu Syathariyah, Naqsyabandiyah, Rifaiyah dan Qadiriyah. Tiga tarekat di antaranya, kecuali Tarekat Rifaiyah, memang ramai diamalkan oleh ulama dunia Melayu tetapi Tarekat Rifaiyah barangkali ramai juga ulama kita yang mengamalkannya cuma mereka tidak pernah mengisytiharkan mengenainya pada karya-karya mereka. Satu-satunya karya yang pengarangnya mengaku secara terang bahawa dia pengamal Tarekat Rifaiyah ialah Syeikh Syihabuddin al-Haji bin Abdullah Muhammad al-Jawi yang diriwayatkan ini.

Dalam naskhah MS 1522 dengan jelas Syeikh Syihabuddin al-Haji mengakui beliau penganut Mazhab Syafie, iaitu mazhab itu yang dominan dianuti oleh semua ulama dunia Melayu sejak zaman dahulu. Bahkan hingga ke zaman kita sekarang ini. Kemudian beliau mengakui pula bahawa beliau ialah pengamal keempat-empat tarekat yang disebutkan. Ada pun Tarekat Syathariyah diakui dikembangkan oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh yang kemudian disebarkan oleh murid-muridnya di seluruh dunia Melayu. Memerhatikan tahun kemunculan karya Syeikh Syihabuddin al-Haji, 1162 H/1748 M, sekurang-kurangnya beliau peringkat cucu murid saja daripada Syeikh Abdur Rauf, dan ada kemungkinan termasuk murid ulama besar yang berasal dari Aceh itu.

Kemudian Syeikh Syihabuddin al-Haji mengakui beliau pengamal Tarekat Naqsyabandiyah. Mengenai tarekat ini kurang jelas siapakah peringkat awal ulama dunia Melayu yang paling gigih selaku penyebarnya. Hanya sedikit maklumat diriwayatkan bahawa Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi (Makasar) ialah salah seorang pengamal Tarekat Naqsyabandiyah peringkat awal dunia Melayu. Tetapi oleh sebab masa-masa hidupnya lebih lama di negeri buangan, di Sri Lanka dan Afrika Selatan, maka sukar dipastikan adakah beliau yang paling berjasa dalam penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah di dunia Melayu.

Oleh itu, kedudukan Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi dalam penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah di dunia Melayu adalah sama dengan Syeikh Syihabuddin al-Haji, iaitu belum begitu jelas sistem penyebaran yang dilakukannya. Dapat dikatakan ulama yang sezaman dengan Syeikh Syihabuddin al-Haji yang mengamal pelbagai tarekat termasuk Tarekat Naqsyabandiyah ialah Syeikh Abdur Rauf bin Makhalid Khalifah al-Qadiri al-Bantani.

Dalam Salasilah Tarekat Naqsyabandiyah, Ali bin Sulaiman Kampung Kuala Mempawah disebutkan bahawa ulama Banten itu menerima Tarekat Naqsyabandiyah daripada Syeikh Muhammad Zain bin Syeikh Zain al-Mazjaji di Mekah. Ulama Banten ini memulakan aktiviti penulisan mulai tahun 1112 H/1700 M sampai 1173 H/1760 M. Oleh sebab Syeikh Abdur Rauf bin Makhalid Khalifah al-Qadiri al-Bantani hidup sezaman dengan Syeikh Syihabuddin al-Haji ada kemungkinan Syeikh Syihabuddin al-Haji juga menerima Tarekat Naqsyabandiyah daripada Syeikh Muhammad Zain bin Syeikh Zain al-Mazjaji.

Ada pun mengenai Tarekat Qadiriyah, dipercayai hampir semua ulama yang terdahulu daripada Syeikh Syihabuddin al-Haji mengamalkannya termasuk Syeikh Hamzah al-Fansuri, Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i, Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Syeikh 'Abdur Rauf al-Fansuri dan ulama-ulama sesudah mereka. Syeikh Abdur Rauf bin Makhalid al-Bantani pada namanya menyebut beliau adalah ‘Khalifah al-Qadiri’. Walaupun Syeikh Abdur Rauf juga pengamal pelbagai tarekat dan pernah membai'ah Tarekat Naqsyabandiyah kepada muridnya, Tuan Imam Malim Kaya, namun yang diakuinya sebagai khalifah hanya pada Tarekat Qadiriyah.

Tarekat Qadiriyah di dunia Melayu sampai ke kemuncak kejayaan penyebarannya hingga ke zaman Syeikh Ahmad Khatib Sambas, iaitu ulama yang muncul kemudian daripada Syeikh Syihabuddin al-Haji. Ada pun mengenai Tarekat Rifaiyah, tempatnya di dunia Melayu tidak seberapa subur, hanya sedikit ulama kita yang mengamalkannya. Antara yang tidak mengamalkannya termasuklah Syeikh Syihabuddin al-Haji. Ada pun nama Tarekat Rifaiyah adalah dinisbahkan kepada Sayidi Ahmad bin Yahya bin Hazim bin Rifa'ah (lahir tahun 500 H/1107 M, wafat tahun 570 H/1175 M, riwayat lain menyebut wafat tahun 578 H/1182 M). Riwayat hidup ulama sufi tersebut diperkenalkan buat pertama kali dalam bahasa Melayu oleh Syeikh Ahmad al-Fathani dalam karyanya Hadiqatul Azhar war Rayahin.

Setelah Syeikh Syihabuddin al-Haji selesai membicarakan akidah beliau kemudiannya membahas tentang tasawuf. Menurut Syeikh Syihabuddin al-Haji, “Maka erti tasawuf itu, mengenal sesuatu yang membaiki hati daripada sifat yang mazmumah (tercela, pen:) dan menghias hati dengan sifat mahmudah (terpuji, pen:).” Dengan jelas, konsep ajaran tasawuf yang disebut oleh Syeikh Syihabuddin al-Haji, “selain mengikut akhlak Nabi Muhammad s.a.w. juga mengikut perangai orang-orang yang soleh daripada orang yang dahulu-dahulu daripada sekalian sahabat Nabi dan Auliya' Allah. Dan engkau jauhilah perangai sekalian orang yang bidaah.”

Sangat keras

Syeikh Syihabuddin al-Haji sangat keras terhadap golongan yang hanya mengaku dirinya sampai ke peringkat tinggi dalam tasawuf tetapi sebenarnya adalah suatu pembohongan yang menyalahi akhlak para pengamal tasawuf. Beliau menulis, dan beberapa orang yang ia mendakwa dirinya sampai kepada Makam Ahli al-Khawash, padahal perbuatannya seperti hayawan (haiwan-haiwan atau binatang-binatang, pen:). Hingga berkata orang itu, bahawasanya apabila ia sampai kepada Makam al-Khawash atau Maqam Khawash al-Khawash maka gugurlah dirinya itu daripada ibadah yang bangsa badan, seperti sekalian taklif syarak. Maka itu bidaah yang amat sesat lagi kafir.

Setelah membahas beberapa permasalahan tasawuf, Syeikh Syihabuddin al-Haji bercerita tentang kemujaraban ubat badan dan rohani. Kata beliau, dan apabila engkau telah mengenal akan yang telah tersebut itu, maka engkau mengenal bahawasanya asal segala ubat sakit badan atau yang bangsa hati itu lima perkara. Yang pertama meringankan perutnya daripada makan dan minum, dan mata daripada tidur, dan barang sebagainya. Mengenai yang pertama tersebut Syeikh Syihabuddin al-Haji memberitahu, kata setengah ahli tasawuf bahawasanya syaitan itu berjalan seperti jalan darah. Dan apabila banyak darahnya banyaklah datang masuk syaitan dalam hatinya. Dan banyak darah itu sebab banyak makan, tidur dan minum.

Oleh sebab demikian, meringankan perut dan mata itu setengah daripada ubat akan sekalian yang sakit. Dan kerana itulah berkata sebilangan ahli tasawuf, dan tidak ada barang sesuatu yang terlebih kurang itu dibilang daripada sifat yang mahmudah, melainkan tiga perkara iaitu kurang makan, kurang tidur dan kurang berkata-kata. Dan yang ketiga itu hendaklah bersahabat dengan orang yang menunjuk jalan kepada Allah atau jalan syarak
Sumber disini